Skip to main content

Sejarah Gereja Toraja Jemaat Moria Nonongan

Jemaat Moria Nonongan merupakan anggota Gereja Toraja yang  terletak kurang lebih 10 kilometer dari kota Rantepao. 

Masyarakat Nonongan termasuk masyarakat plural karena di dalamnya terdapat beberapa aliran agama yaitu agama Islam, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan. Masyarakat tersebut mayoritas punya hubungan keluarga, memiliki rasa kesatuan dan gotong royong yang sangat kuat. 

Hal itu dapat dilihat bila ada kegiatan, baik pada rambu tuka’, rambu solo’, tanam padi serta dalam pencarian dana. Selain itu persatuan antar pemeluk agama pun terjalin dengan baik.

Mata pencaharian penduduk sebagian besar dengan cara bertani dan tukang bangunan. Ada yang memelihara ikan, menanam padi, beternak serta menjadi tukang bangunan. 

Adapun program pemerintah dalam membentuk Kelompok Tani dan mendatangkan penyuluh pertanian sangat membantu dalam peningkatan mutu pertanian dan dengan sendirinya meningkatkan pendapatan masyarakat. 

Kini masyarakat sudah memahami bagaimana penggunaan pupuk secara berimbang, serta dampak dari penggunaan pestisida. 

Masyarakat juga mendapatkan penambahan penghasilan melalui pemeliharaan ternak Babi serta Ayam. Di samping itu ada beberapa yang mata pencahariannya sebagai pegawai dan pekerja kantoran.

Anak-anak anggota Jemaat yang menuntut ilmu pada tingkat SD, SMP, SMA dan Mahasiswa yang bersekolah di Makale ataupun di bagian Mengkendek dan pulang pergi setiap harinya karena jarak tersebut masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki ataupun mengendarai motor. 

Awal mula dibicarakan tentang pendirian cabang kebaktian Moria Nonongan saat rapat pembubaran panitia pentahbisan jemaat Nonongan pada tahun 1995 bulan Juni. 

Dua tokoh yang berinisiatif dalam hal ini yakni, Marten Sumbung dan Marten Sanda (Ne’ Suda). 

Alasan mereka ingin mendirikan cabang kebaktian Moria Nonongan karena perjalanan ke Jemaat Nonogan yang terlalu jauh sehingga beberapa anggota Jemaat yang tidak pergi ke gereja.

Setelah lima kali dibahas dalam rapat majelis gereja Jemaat Nonongan barulah disetujui untuk mendirikan cabang kebaktian Moria Nonongan. Pada bulan April 1996 dibentuklah panitia pembangunan yang terdiri dari 
  1. Ketua panitia : Paulus Seru
  2. Ketua pembangunan : Ne’ Salempang 
  • Bidang yang mengurus kayu: Ne’ Salempang dan Paulus Sedan.
  • Bidang yang mengurus batu: Yohanis Minggu dan Tudasta Matasak
Pada tanggal 11 November 1996 peletakan batu pertama di cabang kebaktian Moria Nonongan (tepatnya di lokasi Barra’-Barra’). 

Pengerjaan gedung gereja dilakukan secara sukarelawan (tanpa upah) oleh seluruh Masyarakat Tanete. Biaya yang digunakan dalam pembangunanpun merupakan persembahan dari Masyarakat. 

Tiga tongkonan yang berperan penting dalam proses pembangunan gedung gereja yakni; keluarga besar Tongkonan Buntu Pasang, Tongkonan Buntu Matallo, dan Tongkonan Buntu Matampu.

Pembukaan kebaktian pertama di cabang kebaktian Moria Nonongan adalah pada tanggal 25 Desember 1996, yang dipimpin oleh Pnt. Herman Rombe. Pada Tahun 1997 perayaan paskah PWGT klasis Nonongan Salu ditempatkan di cabang kebaktian Moria Nonongan. 

Majelis gereja pada saat itu adalah:
  • Y. Borong
  • Marten Minggu
  • Daniel Tumaang
  • Elisabet Ri’pi
  • Markus Alik dan
  • Marten Sumbung
Pada tanggal 11 November 2007, Cabang kebaktian Moria Nonongan resmi menjadi satu jemaat. Jumlah kartu keluarga pada saat itu ialah sebanyak 50 KK. Pada tanggal 23 oktober  2013 Jemaat Moria Nonongan ditahbiskan. 

Pastori pertama kali dibuat pada tahun 2016 ketika Proponen Wasty melayani di Jemaat Moria Nonongan. Pembangunan pastori ini dipimpin oleh Daud Sandang. 

Pendeta yang pernah dan sedang melayani di cabang kebaktian Moria Nonongan-Jemaat Moria Nonongan yaitu:
  1. Pdt. Syukur Matasak S.Th. masuk Jemaat tahun 1997, diurapi menjadi pendeta tahun 1998-11 November 2007
  2. Pdt. Steven Sinakka S.Th. masuk Jemaat tahun 2000 diurapi menjadi pendeta tahun 2002-2007.
  3. Pdt. Yonathan Mangallo S.Th masuk jemaat tahun 2007-2012
  4. Pdt. Wasty Seber S.Th masuk jemaat tahun 2012-2019
  5. Sujenta Pongtuluran S.Th. masuk jemaat tahun 2019-
Banyakl hal yang menjadi rintangan dalam pendirian Jemaat Moria Nonongan, di antaranya ialah; pendapat-pendapat dari beberapa pihak yang tidak setuju untuk mendirikan cabang kebaktian Moria Nonongan. 

Di sisi lain Masyarakat juga kesulitan dalam hal biaya untuk pembangunan gedung gereja. Namun hal tersebut tidak menjadi penghalang tekad anggota jemaat untuk mendirikan cabang kebaktian Moria Nonongan sampai menjadi jemaat Moria Nonongan. 

Gereja adalah persekutuan orang-orang yang dipanggil dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang  Allah. Gereja terpanggil untuk melaksanakan tugas panggilan gereja, yaitu bersekutu, bersaksi dan melayani. 

Demikian halnya dengan Jemaat Moria Nonongan, turut melaksanakan panggilan itu di tengah-tengah masyarakat.

Oleh Peron Sirempe

Contact Us: Komentar, saran dan masukan melalui WA 085396717324 dan Gmail Lara4store@gmail.com.