--> Skip to main content

Eksistensi Desa Di Tengah Dunia Digitalisasi

Artikel 3 - Semenjak dahulu, jika kita bercerita tentang desa atau pedesaan yang muncul di benak kita semua adalah keterbelakangan, ketertinggalan, primitif dan kemiskinan. Dengan bahasa kasarnya desa diidentikkan dengan kata "kampungan".
 
Sampai saat ini tidak aneh jika kata kampungan masih sering kali jadi bahan olok-olokan atau cemoohan orang pada umumnya. Kata kampungan yang berarti "berbudaya kampung, terbelakang/belum modern, kolot" (KBBI). Seakan-akan menempatkan orang desa pada posisi paling belakang, bodoh, udik, dan lain-lain.
 
Jika kita kembali ke sejarah bangsa ini stigma yang disandang oleh desa tersebut, juga menjadikan desa hanya sebagai objek bagi parah oligarki, bisa kita liat pada Orde Baru. Dimana Desa-desa hanya dijadikan sebagai "sapi perah" bagi oligarki. Pada saat itu desa hanya menjadi komoditas politik belaka.
 
Potensi desa terabaikan, perkembangan desa hanya berdasar pada alur skenario para penguasa, terabaikannya hak-hak yang dimiliki oleh desa, desa sekan tidak terurus.
 
Berbeda dengan kondisi saat ini, dimana kita tidak lagi mendengar cerita-cerita tersebut yang hanya menjadi bukti sejarah yang bisa merefleksikan masyarakat desa ke arah yang lebi baik. Saat ini desa seakan menjadi ujung tombak pembagunan bangsa ini. 
 
Sumber daya alam yang melimpah serta kearifan lokal yang ada di desa seakan menjadi sarana untuk membangun bangsa ini. Tidak ada lagi kaum primitif dan keterbelakangan di desa-desa, perhatian pemerintah seolah tertuju pada daerah-daerah pinggiran/desa.
 
Hal ini terbukti dengan maraknya sarana dan prasarana yang masuk ke desa-desa, tidak terkecuali sarana teknologi informasi yang semakin meluas menjangkau ke pelosok-pelosok desa, meskipun tak setara dengan yang ada di kota-kota. Namun setidaknya bisa membuka cakrawala masyarakat yang ada di desa untuk bisa melihat dunia luar.
 
Hal ini bisa menjadi ujung tombak bagi masyarakat desa untuk bisa menjadi lebih mandiri, menghilangkan stigma keterbelakangan, primitif dan sebagainya. 

Masa depan desa yang berbasis teknologi informasi sangat dibutuhkan untuk dapat diterapkan di desa-desa, karena sifatnya yang dapat mempermudah, fleksibel, serta dapat menciptakan sistem yang lebih efektif dan efisien. 
 
Dalam konteks perkembangan perekonomian masyarakat desa, teknologi informasi dapat menjadi sarana yang mumpuni, misalnya saja dalam hal pemasaran produk-produk unggulan desa seperti produk pertanian, jasa, wisata, serta dalam bidang lainnya yang ada di pedesaan, teknologi informasi dapat menjadi tumpuan untuk menjadikan desa lebih berkembang serta hidup.
 
Begitu banyaknya manfaat serta keuntungan yang dapat diperoleh dari penerapan teknologi informasi di desa-desa. Maka dari itu perlu adanya optimalisasi di dalam pendayagunaannya. Teknologi informasi yang berbasis digital kini menjadi hal yang sangat vital bagi seluruh elemen masyarakat.
 
Namun yang menjadi tantangan tersendiri dari penerapan teknologi berbasis digital adalah faktor infrastruktur yang saat ini belum merata sampai ke pelosok desa, serta hambatan yang juga cukup signifikan adalah sumber daya manusia (SDM) yang belum memadai. 

Selain itu adanya penggunaan teknologi secara tidak cerdas kadang menjadi dampak negatif seperti maraknya penipuan berbasis digital, penyalagunaan teknologi informasi contohnya media sosial yang seharusnya dijadikan sebagai sarana sumber infomasi ataupun silaturahmi, namun tak jarang dijadikan sebagai wada saling sindir-menyindir baik oknum maupun kelompok, yang dapat memicu adanya konflik perpecahan antar masyarakat.
 
Adanya kesenjangan-kesenjangan tersebut, masih menjadi persoalan yang cukup serius dan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak untuk dapat memecahkan solusinya bersama-sama.

Penulis Buklla ID

Contact Us: Komentar, saran dan masukan melalui WA 085396717324 dan Gmail Lara4store@gmail.com.