Skip to main content

Review Novel Negeri Di Ujung Tanduk Tere Liye

Review Novel Negeri Di Ujung Tanduk Tere Liye - Novel Negeri Di Ujung Tanduk adalah sekuel dari Negeri Para Bedebah. Jadi, sebelum baca novel Negeri Di Ujung Tanduk, baca dulu novel Negeri Para Bedebah agar ceritanya semakin dapat.

Untuk itu, baca dulu review novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye.

Selanjutnya, berikut ini adalah ulasan sinopsis dan review singkat novel Negeri Di Ujung Tanduk karya Tere Liye.

Review Novel Negeri Di Ujung Tanduk Tere Liye



Review Novel Negeri Di Ujung Tanduk Tere Liye
Review Novel Negeri Di Ujung Tanduk Tere Liye

Judul : Negeri Di Ujung Tanduk
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT. Gramedia Pusaka Utama
Jumlah Halaman : 360 Halaman

Di Negeri di Ujung Tanduk
Kehidupan semakin rusak,
bukan karena orang jahat semakin banyak,
tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.

Di Negeri di Ujung Tanduk
para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan,
bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan,
tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendiri.

Tapi di Negeri di Ujung Tanduk
setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci,
meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata,
dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

Cover Negeri Di Ujung Tanduk - Tere Liye
Cover Negeri Di Ujung Tanduk - Tere Liye

Jika di novel Negeri Para Bedebah yang bercerita tentang ekonomi dan Bank Semesta yang terancam pailit, di Negeri Di Ujung Tanduk bercerita tentang politik, dimana pertarungan memenangkan konvensi bakal calon presiden.

Pada novel Negeri Di Ujung Tanduk, ada banyak pesan tersirat maupun tersurat tentang dunia politik.

Jika di novel Negeri Para Bedebah perusahaan yang dipimpin Thomas hanya berkecipung dalam dunia konsultasi ekonomi, di novel Negeri Di Ujung Tanduk, perusahaan Thomas membuka cabang konsultasi politik.

Tidak tanggung-tanggung, perusahaan konsultan Thomas telah memenangkan dua pemilihan gubernur dalam waktu belum genap satu tahun.

Kali ini, di bidang konsultasi politik juga, Thomas memiliki klien yang akan bertarung dalam konvensi partai politik untuk memenangkan tempat sebagai kandidat calon presiden.

Namun, masalah mulai muncul ketika konvensi sebentar lagi tiba. Thomas yang adalah kunci penting bagi klien-nya memenangkan konvensi partai harus menjadi incaran lawan politik.

Masalah pertama muncul ketika Thomas di kapal pribadinya bersama Kadek, Opa dan Maryam disergap oleh satuan khusus antiteror otoritas Hong Kong SAR karena kedapatan membawa 100 kg bubuk heroin kelas satu dan senjata.

Thomas yang tidak tahu apa-apa dan mengerti bahwa ia difitnah langsung merencanakan strategi untuk kabur. Apakah Thomas, dkk. berhasil kabur?

Selanjutnya serangan yang lebih mematikan terhadap klien Thomas ketika ditangkap atas tuduhan melakukan tindak pidana korupsi.

Bagaimana Thomas mengatasi masalah ini?

Thomas yang masih menjadi buronan internasional setelah kejadian di Hong Kong menyusun strategi sebagai respon terhadap lawan politiknya.

Seperti pada masalah Bank Swasta yang terancam pailit, kali ini Thomas juga berhasil mempengaruhi media dengan menggunakan istilah "mafia hukum".

Siapa sebenarnya mafia hukum yang dimaksud oleh Thomas, yang telah melakukan serangan politik dan membunuh karakter kliennya?

Ya, siapakah mafia hukum tersebut?

Untuk mencari bukti-bukti terkait mafia hukum dan siapa saja yang terlibat, Thomas memanfaatkan tim IT perusahaannya.

Seperti pepatah "kuasai dunia maya maka menaklukan dunia nyata lebih mudah".

Tim IT Thomas yang dipimpin oleh Kris yang memiliki keahlian di bidang IT dan jaringan komputer yang kemampuannya dalam mengolah data bisa diandalkan.

Tugas Kris dkk. adalah untuk mencari siapa saya mafia hukum yang terlibat dan kemungkinan besar memiliki hubungan dengan ditangkapnya klien politik Thomas.

Apakah penelusuran tim IT Thomas yang dipimpin oleh Kris berhasil menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Thomas?

Apakah mereka berhasil mengungkap pola dan rantai jaringan mafia hukum?

Siapa sangkah, kalau orang yang mengendalikan seluruh jaringan ini adalah orang dari masa lalu Thomas. Yang bahkan namanya tidak ditemukan di internet. Ya, dialah Tuan Shinpei, yang dulu telah mengkhianati Om Liem dan Papa Edward.

Bagaimana kisahnya selanjutnya?

Terus baca sampai pada bagian terakhir ketika pertarungan di kapal terjadi. Ceritanya tidak kalah dari film action holywood.

Di novel Negeri Di Ujung Tanduk, baru lihat sampulnya aja kita sudah bisa paham apa makna novel ini. Ya, dunia politik adalah dunia yang penuh kepura-puraan (manusia bertopeng) dimana seseorang bisa bersikap seolah biasa saja dan tidak terjadi apa-apa, namun bisa saling menjatuhkan.

Kelebihan dan Kekurangan Novel Negeri Di Ujung Tanduk


Berikut ini kelebihan dan kekurangan novel Negeri Di Ujung Tanduk.

Kelebihan

Novel Negeri Di Ujung Tanduk tidak kalah seru dari novel Negeri Para Bedebah. Ada banyak pandangan tentang dunia politik yang bisa didapatkan dalam novel ini.

Sama seperti sekuel sebelumnya, novel ini juga bisa menggambarkan bagaimana dunia politik itu. Kawan dan lawan bisa ada dimana-mana dan semua tentang kepentingan, entah itu pribadi atau pun kelompok.

Bagi kamu yang tertarik dengan dunia politik, tidak ada salahnya baca novel karya Tere Liye ini. Terlebih pada bagian Sepuluh Petarung sehingga kamu tidak lengah.

Kekurangan

Novel ini tidak jauh berbeda dengan novel karya Tere Liye sebelumnya. Namun dalam novel Negeri Di Ujung Tanduk, genre action-nya semakin seru dan menegangkan.

Hanya saja, sebagian orang berpendapat bahwa ending dari novel Negeri Di Ujung Tanduk terlalu "too be good to be true".

Amanat Novel Negeri Di Ujung Tanduk


Ada beberapa hal menarik dalam novel ini.

Salah satu yang bisa menjadi pesan buat kamu adalah kisah Sepuluh Petarung.

Dalam novel ini, dikisahkan ada sepuluh petarung terbaik yang mengikuti sayembara raja. Siapapun yang berhasil memenangkan sayembara, akan menikah dengan putri raja dan menjadi pewaris tahta kerajaan.

Jadi, sepuluh petarung tersebut akan mencari rusa bertanduk di dalam hutan terlarang. Keangkeran hutan tersebut membuat siapapun gentar sehingga tidak heran jika hanya ada 10 orang yang akhirnya ikut sayembara.

Dari 10 orang tersebut, ada 2 petarung yang berhasil menangkap buruan.

Siapa dari mereka yang akan memenangkan sayembara?

Ternyata bukan mereka berdua. Karena ada petarung yang sejak awal menunggu di gerbang hutan dan membunuh kedua petarung yang berhasil menangkap rusa bertanduk tersebut.

Pada akhirnya, petarung yang hanya menunggu tersebut dan melakukan kelicikan keluar dari hutan terlarang dengan membawa dua ekor tangkapan itulah yang memenangkan sayembara.

Seperti itulah kejamnya dunia politik "kotor". Banyak orang yang menggunakan kelicikan dibandingkan kecerdasan. Lebih parahnya lagi, menggunakan kecerdasan untuk melakukan kelicikan untuk membunuh lawan politiknya. Karena itu, be careful, berhati-hatilah!

Namun saya sarankan untuk selalu pegang kata-kata dan prinsip ini:

Tapi di Negeri di Ujung Tanduk setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

Amanat yang tidak kalah penting dari Novel ini adalah dunia maya. Saat ini, dunia maya menjadi representasi dunia nyata. Tidak ada batas lagi antara dunia maya dan dunia nyata.
Apa yang terjadi di dunia maya terjadi di dunia nyata, dan apa yang terjadi di dunia nyata terjadi juga di dunia maya.

Kedepannya, entah dalam bisnis, politik dan lainnya, dunia maya memegang peranan penting.

Siapa yang bisa mengendalikan dunia maya, lebih mudah menguasai dunia nyata.

Karena itu, ini saatnya untuk beralih dan memanfaatkan komputer dan jaringan internet, tapi dengan cara yang positif.

Baca novel best seller lainnya: Sinopsis Novel 5 cm Per Bab Lengkap

Demikianlah review novel Negeri Di Ujung Tanduk Tere Liye. Semoga bermanfaat!
Contact Us: Komentar, saran dan masukan melalui WA 085396717324 dan Gmail Lara4store@gmail.com.